Surat Al-faatihah Lanjutan

2. Ibadah

Ibadah ini adalah buah dari keimanan kepada Allah, dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Seorang yang meyakini adanya Allah –dengan segala sifat kesempurnaan-Nya– akan meyembah Allah. Ibadah ini telah dibayangkan di dalam surat Al Faatihah dengan firman-Nya:

5. IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IIN.
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.(QS. Al Faatihah : 5)
Di dalam ayat ini, Allah mengajari hamba-hamba-Nya supaya menyembah hanya kepada Allah semata. Maka, ayat ini selain mengandung akidah tauhid, juga mengandung ibadah kepada Yang Maha Esa itu.

6.IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.
5. IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IIN.“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.(QS. Al Faatihah : 5) Di dalam ayat ini, Allah mengajari hamba-hamba-Nya supaya menyembah hanya kepada Allah semata. Maka, ayat ini selain mengandung akidah tauhid, juga mengandung ibadah kepada Yang Maha Esa itu. 6.IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”.(QS. Al Faatihah : 6)
Untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di Akhirat, Allah mengadakan peraturan-peraturan, hukum-hukum, menjelaskan kepercayaan-kepercayaan, memberi pelajaran dan contoh-contoh. Ini semua adalah laksana jalan lurus yang dibentangkan oleh Allah, yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan di dunia dan di Akhirat. Maka berbahagialah mereka yang menjalaninya dan sengsaralah orang yang menghindarkan diri dari jalan itu.
Menjalani jalan yang lurus berarti beribadah kepada Allah, dengan mematuhi peraturan-peraturan, menjalankan hukum-hukum, berpegang kepada akidah yang benar, melaksanakan pelajaran-pelajaran dan mengambil tauladan kepada contoh-contoh yang telah diberikan oleh Allah.

Ibadah itu tidak dapat dipisahkan dari tauhid, sebagaimana tauhidpun tidak bisa terpisah dari ibadah. Ibadah merupakan buah dari tauhid. Dan ibadah tidak mempunyai nilai kalau timbulnya tidak dari perasaan tauhid. Demikian pula halnya dengan tauhid. Tauhid tidak akan subur hidupnya di dalam jiwa dan raga manusia, kalau tidak selalu dipupuk dengan ibadah. Tauhid tanpa ibadah bahkan bisa menjadi “Zindiq” (kepercayaan yang sesat). Oleh sebab itu, di dalam surat Al Faatihah disamping disebutkan tentang tauhid juga disebutkan oleh Allah tentang ibadah. Keduanya secara ringkas akan diikuti dengan penjelasan-penjelasan pada ayat-ayat yang lain di dalam surat-surat berikutnya.

1. Hukum dan Peraturan

Telah disebutkan di atas, bahwa untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat, Allah mengadakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan ini. Ada yang berkenaan dengan perhubungan manusia dengan Allah dan ada yang berhubungan dengan masyarakat serta kenegaraan dan lain sebagainya.
Di dalam Al Qur’anul Kariim banyak didapati ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum dan peraturan. Semua ayat-ayat ini adalah penjelasan bagi apa yang telah dibayangkan dalam surat Al Faatihah. Allah membayangkan hukum dan peraturan dalam Firman-Nya:

IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM

“Tunjukilah kami ke jalan lurus”.(QS. Al Faatihah : 6)

Jalan yang mengantar manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat; yaitu akidah yang benar, hukum-hukum dan peraturan-peraturan, pelajaran-pelajaran yang dibawa oleh Al Qur’an sebagaimana telah disebutkan diatas.

4. Janji dan Ancaman

Al Qur’anul Kariim juga berisi janji dan ancaman (wa’ad dan wa’id). Dia menjanjikan kebahagiaan kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, sebagaimana dia mengancam mereka yang mempersekutukan Tuhan, yang membuat onar dan kejahatan dengan azab dan siksa. Janji dan ancaman kepada umum, kaum atau bangsa.

Di dalam surat Al Faatihah dijumpai ayat-ayat yang mengandung janji dan ancaman, yaitu:
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
“Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Penyayang”.(QS. Al Faatihah:1)

Dengan menyebut “Maha Pemurah” lagi “Maha Penyayang” Allah menjanjikan kepada mereka yang beriman dan berbuat baik limpahan karunia serta nikmat dari-Nya.

MAALIKI YAUMIDDIIN.
“Yang menguasai hari pembalasan”.(QS. Al Faatihah : 4)
Di hari itu perbuatan manusia sewaktu di dunia akan dibalas. Syurga untuk mereka yang beriman dan berbuat baik, sedangkan neraka bagi mereka yang ingkar dan berbuat salah. Ini adalah janji dan ancaman.

IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.
“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”.(Al Faatihah:6)
Orang yang mengikuti jalan yang lurus akan berbahagialah dia, dan yang menghindarkan diri dari jalan yang lurus akan celakalah dia. Dengan ini dapat difahami adanya janji dan ancaman.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: